Popularitas roti sourdough kini menyaingi roti biasa atau roti komersial. Tetapi, benarkah roti sourdough lebih sehat? Ini penjelasannya.
Selain nasi, roti juga menjadi sumber asupan karbohidrat yang cukup populer. Ketersediaannya yang mudah didapatkan serta cukup mengenyangkan menjadi alasan roti cukup populer Di pasaran.
Tetapi, Di beberapa tahun terakhir, perhatian publik mulai beralih Di roti biasa Di sourdough yang disebut-sebut lebih sehat. Kedua roti ini Memiliki banyak perbedaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya soal rasa, tetapi proses pembuatan dan kandungan Di dalamnya. Salah satu yang paling mencolok, ialah sourdough yang menggunakan metode fermentasi alami. Sambil roti biasa menggunakan ragi siap pakai.
Baca juga: Hanya Minta Lauk Ikan, Kisah Tunawisma Ini Bikin Pemilik Kedai Terharu
Lantas, benarkah sourdough lebih sehat?
|
Berbeda Bersama roti biasa, sourdough Lewat proses yang lebih kompleks. Foto: Getty Images/muratkoc
|
1. Sourdough VS Roti Biasa
Sourdough adalah jenis roti yang dibuat Lewat proses fermentasi alami menggunakan campuran tepung dan air yang disebut starter. Starter ini mengandung ragi liar dan bakteri asam laktat yang berkembang Di lingkungan Disekitar.
Sambil roti biasa umumnya dibuat menggunakan ragi tunggal, seperti Saccharomyces cerevisiae. Tujuannya adalah mempercepat proses Pembaruan adonan Agar produksi bisa lebih efisien.
Fermentasi panjang panjang Ke sourdough menyebabkan terjadinya perubahan kimia Ke adonan Agar akn lebih mudah dicerna tubuh. Ke roti biasa struktur mikroba rotinya sangat sederhana.
2. Kandungan Mikroba
Perbedaan paling mendasar Di sourdough dan roti biasa terletak Ke ekosistem mikroorganisme Di dalamnya. Sourdough Memiliki ekosistem yang kompleks, terdiri Di berbagai jenis ragi liar dan bakteri asam laktat.
Justru, Di satu starter bisa terdapat puluhan hingga ratusan spesies mikroba. Sebagai Gantinya, roti biasa hanya mengandalkan satu jenis ragi, Agar ekosistemnya jauh lebih sederhana dan kurang bervariasi.
Di sourdough, ragi dan bakteri hidup secara simbiosis. Bakteri membantu memecah zat tertentu Di tepung, Sambil ragi menghasilkan gas yang membuat adonan mengembang.
3. Proses Fermentasi
Sebab sourdough menggunakan ragi alami, maka dibutuhkan proses fermentasi yang tidak sembarangan. Fermentasi sourdough membutuhkan waktu lama dan Kepuasan tertentu.
Di membuat sourdough, penting Untuk memperhatikan suhu dan kelembapan udara Disekitar. Tujuannya Untuk mendukung perkembangan komunitas mikroba yang beragam dan adaptif.
Proses fermentasi yang kompleks ini tidak terlalu dibutuhkan Ke roti biasa. Roti biasa hanya mengejar Kecepatanakses Di argi aktif tanpa Merencanakan perkembangan secara kompleks.
Proses pembuatannya yang kompleks membuat rasa dan tekstur sourdough berbeda dibandingkan roti biasa. Foto: Detikcom / Atiqa Rana |
4. Rasa dan Tekstur
Ekosistem mikroba yang kaya Di sourdough menghasilkan rasa asam yang khas dan aroma yang lebih kompleks. Di Itu, teksturnya lebih kenyal dan Memiliki struktur pori yang unik.
Sambil Itu, roti biasa cenderung Memiliki rasa hambar dan tekstur yang lebih lembut Sebab proses fermentasi yang singkat. Karena Itu roti biasa lebih sering dipadukan Bersama bahan tambahan Untuk menambah citarasanya.
Eksperimen Menunjukkan bahwa fermentasi sourdough dapat Meningkatkan kandungan senyawa bioaktif, vitamin, dan antioksidan Di roti. Mikroba Di sourdough juga membantu memecah gluten dan pati Agar lebih aman Untuk pencernaan.
Baca juga: Lor Payoh: Nasi Hor Fun dan Nasi Alat Potong Kari Nikmat Bisa Dicicip Di Sudirman
Halaman 2 Di 2
(dfl/adr)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Sourdough vs Roti Biasa, Mana yang Lebih Enak dan Sehat?












