Organisasi Kesejaganan Dunia (WHO) Ke Jumat (30/1) Mengungkapkan dua Tindak Kejahatan Penyakit Menyebar Mikroba Nipah (NiV) yang dikonfirmasi laboratorium telah dilaporkan Hingga India.
Di Disease Outbreak News terbarunya, WHO menyebutkan National IHR Focal Point India Ke Senin (26/1) memberi tahu tentang dua Tindak Kejahatan yang terdeteksi Hingga Negeri Pada Benggala Barat.
Tindak Kejahatan-Tindak Kejahatan Penyakit Menyebar ini dikonfirmasi Hingga Institut Virologi Nasional India Hingga Kota Pune Ke 13 Januari, kata WHO, yang juga Mengungkapkan bahwa kedua Tindak Kejahatan tersebut melibatkan tenaga Kesejaganan Hingga sebuah Fasilitas Medis swasta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana Hingga Indonesia?
Sambil Itu Hingga Indonesia, sampai Di ini belum ditemukan Tindak Kejahatan Ke manusia. Meski begitu, peneliti Badan Kajian dan Perkembangan Nasional (BRIN) mengungkapkan sejumlah Studi telah Memberi bukti ilmiah keberadaan Mikroba tersebut Ke satwa liar.
Ahli Utama Virologi sekaligus Kepala Organisasi Kajian Kesejaganan BRIN, Niluh Putu Indi Dharmayanti mengatakan studi serologis Hingga Kalimantan Barat menemukan antibodi Nipah Mikroba Ke Disekitar 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus vampyrus, Walaupun tidak ditemukan Ke babi.
“Deteksi molekuler juga telah dilakukan menggunakan metode PCR Ke sampel saliva dan urine kelelawar Hingga Sumatera Utara, yang mengonfirmasi keberadaan genom Nipah Mikroba,” jelasnya, dikutip Di keterangan resmi, Minggu (1/2/2026).
Studi lanjutan Justru menemukan Mikroba serupa Ke Pteropus hypomelanus Hingga Daerah Jawa, Di karakter genetik yang berkerabat Disekitar Di isolat Di Malaysia dan Negeri Asia Tenggara lainnya.
Menurut Indi, Kebugaran ekologis Indonesia menjadikan risiko penularan Mikroba Nipah tidak bisa diabaikan. Keanekaragaman spesies kelelawar yang tinggi, kedekatan habitat satwa liar Di permukiman manusia, serta praktik perburuan dan perdagangan satwa menjadi faktor pendorong terjadinya spillover Mikroba.
Di Itu, keberadaan pasar hewan Di sanitasi yang kurang memadai serta Penduduk Dunia babi yang besar Hingga beberapa Daerah turut Meningkatkan potensi penularan lintas spesies.
“Komitmen yang intens Antara manusia, hewan, dan lingkungan menjadi Kunci munculnya Penyakit zoonotik seperti Nipah,” ujarnya.
Ia menegaskan hingga Di ini belum tersedia Imunisasi maupun Terapi antivirus spesifik Sebagai Nipah Mikroba. Dari Sebab Itu, penanganan Tindak Kejahatan sangat bergantung Ke Penanganan suportif, Sambil Itu Upaya Mencegah menjadi langkah paling penting Sebagai menekan risiko wabah.
Hingga sisi lain, BRIN, lanjut Indi, Merangsang penguatan surveilans aktif Ke satwa liar, hewan domestik, dan manusia, serta peningkatan kapasitas diagnostik Hingga berbagai Lokasi. Deteksi dini dinilai krusial Sebagai mencegah meluasnya penularan jika Mikroba berpindah Hingga manusia.
Pendekatan One Health menjadi strategi utama Di kesiapsiagaan Berusaha Mengatasi Nipah Mikroba. Pendekatan ini menekankan kolaborasi lintas sektor Antara Kesejaganan manusia, Kesejaganan hewan, dan lingkungan Di Meninjau serta mengendalikan Penyakit zoonotik.
“Tantangan Hingga Di adalah keterbatasan data epidemiologi dan rendahnya kesadaran Kelompok Pada risiko zoonosis. Pelatihan publik harus diperkuat agar Kelompok memahami bahaya kontak Di satwa liar dan konsumsi Kelaparan Global yang Berpotensi Sebagai terkontaminasi,” tambahnya.
Indi berharap hasil Kajian yang dilakukan BRIN dapat menjadi dasar Keputusan nasional Di Upaya Mencegah Penyakit emerging dan re-emerging.
“Penguatan Kajian, surveilans, dan kesiapsiagaan adalah Kunci agar Indonesia mampu Berusaha Mengatasi potensi ancaman Nipah Mikroba secara lebih siap dan terukur,” pungkasnya.
Halaman 2 Di 3
(suc/suc)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Kata Peneliti BRIN, Mikroba Nipah Terdeteksi Ke Hewan Ini Hingga RI











