Di Sinema jadul, seorang fotografer menyusuri jejak Jakarta tempo dulu dan membandingkannya Di wajah ibu kota hari ini. Bisa Di Sebab Itu ide traveling nostalgia yang Memikat.
Jakarta hari ini dikenal sebagai kota Di gedung pencakar langit, pusat Usaha, dan hiruk-pikuk Kegiatan modern, dan kota yang tidak pernah tidur. Akan Tetapi Hingga balik wajah metropolitan itu, ibu kota menyimpan lapisan cerita lain yang perlahan memudar.
Melewati jejak Jakarta tempo dulu yang hanya tersisa Hingga arsip visual, foto lama, dan potongan adegan Sinema inilah yang menjadi ide awal, traveler bisa melakukan perjalanan yang tidak biasa. Yakni, menyusuri Jakarta lewat jejak Sinema-Sinema lawas dan membandingkannya Di Situasi kota Di ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ide itu tidak lahir Di Perancangan besar. Ari mengaku gagasan sering datang Hingga momen-momen sederhana, yang tidak terduga. Bagi proyek ini, inspirasi muncul ketika ia kembali menonton Sinema-Sinema Indonesia tempo dulu.
Ide ini didapat Di ia menonton ulang tayangan Sinema Blok M yang dirilis Di tahun 1990, sebuah Sinema karya Eduart Pesta Sirait yang dibintangi Desy Ratnasari. Ari Menyita sesuatu yang terasa janggal sekaligus Memikat. Ia melihat beberapa lokasi yang dikenalnya, tetapi tampil Di wajah yang sangat berbeda dibandingkan Jakarta hari ini.
“Awalnya saya nonton filmnya Desy Ratnasari yang judulnya Blok M. Di sana saya notice ada beberapa lokasi yang saya tahu, tapi ternyata sudah beda sekali. Perubahannya kontras, dan Di situ saya merasa ini bisa Di Sebab Itu topik yang Memikat Bagi dikulik,” ujar Ari kepada detikTravel, Rabu (28/1/2026).
Di pengamatan itu, Ari mulai merumuskan ide Bagi menyusuri kembali lokasi-lokasi ikonik yang muncul Untuk Sinema-Sinema jadul dan menjadikannya sebagai bahan perjalanan bernuansa nostalgia.
Bagi mewujudkan ide tersebut, Ari melakukan Kajian Di menonton Di 20 Sinema lama Indonesia Untuk satu hari penuh. Fokusnya bukan Di cerita Sinema, melainkan Di adegan-adegan tertentu yang menampilkan lanskap kota.
“Saya Kajian Hingga Sinema-Sinema jadul, ada Di 20 Sinema yang saya Kajian Pada seharian. Itu nggak semuanya saya tonton, saya fokus Hingga cuplikan-cuplikan yang menampilkan lanskap Kota Jakarta saja, Di Sebab Itu filmnya saya cepet-cepetin,” kata dia.
|
Trem Hingga jalanan Jakarta (ari saputra)
|
Setelahnya menemukan adegan-adegan Memikat Di pemandangan lanskap kota, Ari Menyita layar adegan tersebut dan mencetaknya sendiri sebagai bahan pembanding Di turun Hingga lapangan.
Untuk risetnya, Ari Mengetahui skema perfilman Indonesia Di tahun Hingga tahun. Sinema era tahun 1980-1990-an banyak menampilkan wajah Jakarta sebagai latar mulai Di bangunan hingga jalanan kota. Sedangkan Sinema era 2000-an lebih banyak mengangkat tema Asmara, Supaya lanskap Jakarta tidak lagi menjadi sorotan utama dan lebih sulit ditemukan.
“Saya lihat bahwa Sinema era 80-90-an itu banyak menampilkan lanskap Jakarta, sedangkan Sinema tahun 2000-an lebih banyak tentang asmara, cinta-cintaan, Di Sebab Itu kesulitan nemuin lanskap kotanya,” kata dia.
Hayo tebak, ini foto Hingga mana dan Di Sinema apa? (ari saputra) |
Selain Sinema, Ari memperkaya Kajian Di menelusuri majalah lama, iklan jadul, serta arsip foto Bagi menemukan petunjuk visual lokasi-lokasi yang masih Mungkin Saja ditelusuri. Proses liputan sendiri dilakukan Pada dua hari.
Kesulitan paling terasa ketika Ari menyusuri kawasan Melawai, Jakarta Selatan. Beberapa bangunan yang dulu menjadi penanda visual Untuk Sinema Blok M kini sudah berubah total, Malahan ada yang tidak lagi berdiri.
Untuk pencariannya, Ari sempat bertanya kepada juru parkir yang diketahui telah bekerja Hingga kawasan tersebut Dari 1979. Akan Tetapi jawaban yang didapat justru Menunjukkan betapa lamanya perubahan itu terjadi.
“Saya nanya Hingga tukang parkir Hingga sana, dia juga bingung. Kita sempat berdebat beberapa lama pas mencari lokasinya,” kata Ari.
Salah satu patokan yang digunakan Ari Bagi mencari lokasi adalah gedung LPIA yang tampak jelas Untuk adegan Sinema. Akan Tetapi gedung tersebut kini sudah dirobohkan dan kawasan sekitarnya Merasakan perubahan drastis.
Di informasi yang ia dapatkan menyebutk bahwa bangunan tersebut telah dipindahkan Hingga Area lain. Untuk pencarian lokasi adegan lain Hingga Melawai, Ari mengelilingi area yang sama hingga dua sampai tiga kali, memperhatikan setiap sudut bangunan yang tersisa. Hingga akhirnya, satu detail kecil menjadi Kunci.
“Itu saya akhirnya muter-muter lokasi yang sama dua sampai tiga kali, dan akhirnya nemu. Gedung yang punya garis kusen jendela Hingga lantai dua itu ternyata sama persis sama yang dulu,” ujar dia.
Monas zaman dulu (ari saputra) |
Pada atas bangunan tersebut tampak tidak berubah. Ketika dicocokkan Di foto hasil tangkapan layar Sinema, detailnya benar-benar identik.
“Intinya pelan-pelan saja, ada masanya saya merasa stuck, yaudah pulang dulu. Survei lagi, Terbaru datang Hingga sana buat liputan lagi,” tambahnya.
Selain kawasan Melawai, Ari juga menelusuri berbagai titik lain Hingga Jakarta yang Memiliki jejak visual kuat Untuk Sinema dan arsip lama.
Hingga antaranya adalah lanskap Patung Dirgantara, kawasan Kota Tua yang muncul Untuk Sinema Janji Joni karya Joko Anwar, Museum Jakarta tempo dulu, Monas Di dilalui kendaraan umum, JPO Sarinah yang legendaris, terowongan kendal, hingga penampakan Bundaran HI dan Jalan MH Thamrin yang dahulu dilalui bemo, becak, serta kendaraan setir kiri.
Traveling Anti-Mainstream Ala Ari
Bagi Ari, perjalanan ini bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan juga tawaran ide traveling yang berbeda.
Menurutnya wisata nostalgia bisa disesuaikan Di minat dan preferensi masing-masing individu. Ada yang tertarik Di arsitektur vintage, ada yang menyukai estetika visual, ada pula yang ingin melihat kontras Ditengah masa lalu dan modernitas kota.
Preferensi ini memungkinkan anak muda mengeksplorasi Jakarta tanpa harus terpaku Di destinasi viral.
“Kalau traveling bisa disesuaikan lagi Di preferensi masing-masing, apalagi anak muda lebih banyak tahu dan punya preferensi sendiri,” kata dia.
Suasana Melawai zaman dulu (ari saputra) |
Kota justru bisa dinikmati lewat detail kecil, cerita Hingga balik bangunan, serta perbandingan Ditengah Jakarta tempo dulu dan Jakarta hari ini.
Ari merekomendasikan kawasan Kota Tua sebagai salah satu titik awal traveling nostalgia Hingga Jakarta. Hingga sana detikers Akansegera menemukan banyak bangunan peninggalan Belanda yang telah berubah fungsi dan tampilan, Supaya Memikat Bagi dijadikan bahan wisata sambil bernostalgia.
“Kalau destinasi nostalgia, detikers bisa Hingga Kota Tua. Hingga sana banyak bangunan bekas peninggalan Belanda yang masih asli, ada juga yang dialihfungsi, ada juga yang Di Sebab Itu cagar Kearifan Lokal Global, Di sana detikers bisa menemukan hal Memikat,” kata Ari
Menurutnya menyusuri Jakarta dan membandingkan perbedaan kontras yang ada Untuk ingatan merupakan bentuk traveling yang Memikat. Ari mengatakan Jakarta punya banyak cerita yang dirawat Di ingatan manusia-manusia yang hidup Hingga dalamnya.
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Menyusuri Jakarta Tempo Dulu Lewat Jejak Sinema, Ide Traveling Anti-Mainstream














