Lebaran identik Didalam berbagai hidangan khas yang dimasak Di jumlah besar, seperti opor ayam dan rendang. Sebab porsinya banyak dan biasanya disantap bersama keluarga sepanjang hari, Konsumsi tersebut kerap dipanaskan kembali agar tetap hangat Di disajikan.
Tak jarang, opor atau rendang dipanaskan beberapa kali Di sehari, Malahan hingga keesokan harinya. Cara ini Disorot praktis agar Konsumsi tetap siap disantap tanpa perlu memasak ulang Didalam awal.
Akan Tetapi, apakah kebiasaan memanaskan ulang Konsumsi bersantan dan berbahan daging ini aman Bagi Keadaan? Selain frekuensi pemanasan, sebagian orang juga bertanya apakah jenis alat masak yang digunakan dapat memengaruhi Mutu Konsumsi tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenapa Opor dan Rendang Tidak Dianjurkan Dipanaskan Berulang?
Memanaskan ulang Konsumsi sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya dilarang. Akan Tetapi, Di Konsumsi tertentu seperti opor dan rendang yang mengandung daging, santan, serta bumbu yang kompleks, pemanasan berulang dapat Meningkatkan risiko penurunan Mutu dan Keselamatan Ketahanan Pangan.
Salah satu alasan utamanya berkaitan Didalam siklus suhu panas dan dingin yang terjadi ketika Konsumsi dimasak, didiamkan, lalu dipanaskan kembali. Di ilmu Keselamatan Ketahanan Pangan, Situasi ini dapat membuat Konsumsi berada Di “zona bahaya” suhu, yaitu kisaran Di 5-60°C.
Di rentang suhu tersebut, bakteri dapat berkembang lebih cepat jika Konsumsi tidak disimpan Didalam benar, sebagaimana dijelaskan Di pedoman Keselamatan Ketahanan Pangan Didalam United States Department of Agriculture dan World Health Organization (WHO) mengenai Prototipe temperature danger zone Di Konsumsi.
Beberapa bakteri yang sering dikaitkan Didalam keracunan Konsumsi, seperti Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus, dapat tumbuh Di Konsumsi yang dibiarkan terlalu lama Di suhu ruang. Lembaga Keadaan seperti Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa bakteri tersebut dapat menghasilkan toksin penyebab keracunan Konsumsi, dan Di beberapa Tindak Kejahatan toksin ini tidak sepenuhnya hilang Kendati Konsumsi dipanaskan kembali.
Selain risiko mikrobiologis, pemanasan berulang juga dapat memengaruhi Mutu Konsumsi. Santan yang menjadi bahan utama opor maupun sebagian rendang mengandung lemak yang cukup tinggi. Ketika dipanaskan berkali-kali, lemak ini dapat Merasakan oksidasi, yaitu reaksi kimia yang dapat menyebabkan perubahan rasa dan aroma Konsumsi. Trend Populer oksidasi lemak Di Konsumsi yang dipanaskan telah banyak dibahas Di kajian ilmu Ketahanan Pangan yang dipublikasikan jurnal Food Chemistry.
Proses pemanasan berulang juga dapat mengubah tekstur Konsumsi. Daging bisa menjadi lebih keras atau kering, Sambil Itu santan dapat pecah Agar kuah terlihat lebih berminyak dan tidak lagi menyatu Didalam baik. Di Di Itu, beberapa zat gizi yang sensitif Pada panas, seperti vitamin tertentu, juga dapat berkurang Pada proses pemanasan, sebagaimana dijelaskan Di literatur ilmu Ketahanan Pangan dan gizi yang digunakan Dari lembaga United States Department of Agriculture.
Apakah Jenis Alat Masak Berpengaruh Di Pemanasan Ulang?
Selain frekuensi pemanasan, jenis alat masak yang digunakan juga dapat memengaruhi Mutu Konsumsi Di dipanaskan berulang Di Panci yang sama. Kendati bukan faktor utama Di Keselamatan Ketahanan Pangan, bahan alat masak tertentu dapat memengaruhi stabilitas Konsumsi Pada proses pemanasan.
Misalnya, Panci berbahan aluminium dapat bereaksi Didalam Konsumsi tertentu yang bersifat asam atau mengandung garam tinggi. Menurut World Health Organization, aluminium memang dapat bermigrasi Di jumlah kecil Di Konsumsi Pada proses memasak atau pemanasan. Paparan aluminium Di jumlah tinggi Di jangka panjang dikaitkan Didalam potensi gangguan Keadaan tertentu, Kendati Di penggunaan alat masak Rumah tangga normal jumlah yang berpindah Di Konsumsi umumnya masih berada Di batas aman.
Selain aluminium, Panci berbahan besi atau cast iron juga dapat memengaruhi Konsumsi. Panci jenis ini dapat melepaskan sedikit zat besi Di Di Konsumsi Pada proses memasak. Di beberapa Tindak Kejahatan hal ini Malahan dapat membantu menambah asupan zat besi, Kendati Di Konsumsi tertentu pelepasan logam tersebut bisa memengaruhi warna atau rasa hidangan. Keterlibatan Di logam dan Konsumsi Pada proses pemanasan juga dibahas Di berbagai Eksperimen ilmu Ketahanan Pangan, termasuk Di publikasi jurnal Food Chemistry.
Jenis Alat Masak dan Wadah yang Lebih Aman Sebagai Konsumsi
Di memilih alat masak atau wadah penyimpanan Konsumsi, bahan yang digunakan juga dapat menjadi pertimbangan, terutama jika Konsumsi seperti opor atau rendang disimpan lalu dipanaskan kembali. Wadah plastik yang berlabel BPA-free, misalnya, dibuat tanpa menggunakan bahan kimia Bisphenol A yang Sebelumnya Itu banyak dipakai Di produk plastik. Sebab itu, jika opor atau rendang disimpan Di wadah plastik Sebelumnya dipanaskan kembali, penggunaan wadah bebas BPA umumnya Disorot lebih aman Sebagai kontak Didalam Konsumsi.
Sambil Itu, alat masak berbahan stainless steel juga sering direkomendasikan Sebab Bertahan karat dan tidak mudah bereaksi Didalam Konsumsi. Bahan ini dinilai lebih stabil Sebagai memasak maupun memanaskan ulang berbagai hidangan, termasuk Konsumsi bersantan seperti opor dan rendang.
Beberapa produsen juga Menyusun peralatan dapur Didalam lapisan antibakteri yang dirancang Sebagai membantu menghambat Kemajuan kuman Di permukaan alat. Akan Tetapi, lembaga Keadaan seperti Centers for Disease Control and Prevention menekankan bahwa Ilmu Pengetahuan tersebut tidak dapat menggantikan cara penanganan Konsumsi yang benar.
Bakteri tetap bisa berkembang Di Konsumsi jika penyimpanannya tidak tepat atau Konsumsi terlalu lama dibiarkan Di suhu ruang.
Sebab itu, Kendati memilih alat masak atau wadah yang aman dapat membantu menjaga Mutu Konsumsi, faktor yang paling menentukan Keselamatan hidangan seperti opor dan rendang tetaplah cara penyimpanan serta seberapa sering Konsumsi tersebut dipanaskan ulang.
Cara Penyimpanan yang Tepat Sebagai Opor dan Rendang
Agar opor dan rendang tetap aman dikonsumsi meski Akansegera dipanaskan kembali, cara penyimpanan Konsumsi Sesudah dimasak menjadi hal yang sangat penting. Prinsip utama Di Keselamatan Ketahanan Pangan adalah menghindari Konsumsi berada terlalu lama Di suhu ruang, Sebab Situasi tersebut memungkinkan bakteri berkembang.
Menurut pedoman Keselamatan Ketahanan Pangan Didalam United States Department of Agriculture, Konsumsi matang sebaiknya tidak dibiarkan Di suhu ruang lebih Didalam Di dua jam. Sesudah itu, Konsumsi perlu segera disimpan Di Di lemari pendingin agar Kemajuan bakteri dapat diperlambat.
Sebagai hidangan seperti opor dan rendang yang biasanya dimasak Di jumlah besar Di Lebaran, Konsumsi sebaiknya dibagi Di Di beberapa wadah yang lebih kecil Sebelumnya dimasukkan Di kulkas. Cara ini membantu Konsumsi mendingin lebih cepat dan merata, Agar Memangkas risiko Kemajuan bakteri.
Di Di Itu, Di ingin menghangatkan kembali Konsumsi, sebaiknya ambil secukupnya saja Sebagai dipanaskan, bukan memanaskan seluruh porsi sekaligus berulang kali. Konsumsi juga perlu dipanaskan hingga benar-benar panas atau mendidih agar mikroorganisme yang Mungkin Saja berkembang dapat berkurang.
Didalam penyimpanan yang tepat serta cara pemanasan ulang yang benar, hidangan seperti opor dan rendang tetap bisa dinikmati Didalam lebih aman Pada momen Lebaran.
Halaman 2 Didalam 3
Simak Video “Video Pesan Internis Jika Punya GERD Tapi Mau Banget Makan Opor sama Rendang“
(fti/up)
Lebaran Bebas Kolesterol Asam Urat
11 Konten
Lebaran identik Didalam makan enak, serba santan dan serba berlemak. Wajar jika banyak yang khawatir kolesterol dan asam uratnya kambuh. Tapi Damai, bisa kok dikelola Didalam bijak. Simak ulasannya.
Konten Berikutnya
Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Risiko Keselamatan Ketahanan Pangan Di Balik Kebiasaan Memanaskan Ulang Opor-Rendang Sisa Lebaran











