Jakarta –
Pola konsumsi tinggi gula, garam, dan lemak (GGL) Di Indonesia mengkhawatirkan. Menurut data Survei Kesejajaran Indonesia (SKI) 2023, 47 persen warga Indonesia mengonsumsi gula melampaui batas harian. Begitu juga Di asupan garam. Sebanyak 45 persen Kelompok mengonsumsi garam berlebih dan 30 persen warga lainnya Memperoleh asupan lemak tinggi.
Temuan tersebut sejalan Di data Peristiwa Pidana Penyakit tidak menular yang juga ikut Menimbulkan Kekhawatiran. Misalnya, angka diabetes Di anak. Kasusnya melonjak nyaris 70 kali lipat Untuk kurun 10 tahun terakhir. Tren yang sama tidak jauh berbeda Di hipertensi, juga Penyakit jantung yang menjadi salah satu beban pembiayaan Kesejajaran tertinggi.
Di 2022, terdapat 15,5 juta Peristiwa Pidana Penyakit jantung yang menelan biaya Kesejajaran nasional hingga Rp 12,14 triliun. Sambil Di 2023 ditemukan 20 juta Peristiwa Pidana jantung Di menelan biaya hingga Rp 17,6 triliun. Angka tersebut Berpeluang terus Menimbulkan Kekhawatiran bila pola konsumsi tinggi GGL terus berlanjut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karenanya, pemerintah Ditengah merampungkan regulasi pemberian label Terbaru, tidak hanya Di Kelaparan Global olahan, melainkan Kelaparan Global siap saji. Artinya, Berencana ada keterangan Terbaru Yang Berhubungan Di informasi gula, garam, lemak, juga jumlah kalori Di setiap industri Kelaparan Global siap saji, baik Minuman maupun minuman.
“Sebagai Kelaparan Global siap saji, kita kan melihat benchmark Di Singapura, Malaysia, Di restoran Minuman siap saji mereka sudah ada Di menu keterangan kadar gula, kadar kalorinya, Karena Itu kalau Di situ kita bisa pilih misalnya burger kalori-nya 2 ribu, wah sekali makan sudah memenuhi batas harian,” jelasnya Untuk sesi bincang bersama detikcom Leaders forum, Jumat (28/2/2025).
“Nanti kita bisa pilih mau menghindari, atau tetap makan tetapi minimal harus Berlarilah 5 km,” tandas dr Nadia.
Kepala BPOM RI, Kemenkes RI, dan para industri Menyoroti perbaikan regulasi label Kelaparan Global Di Ditengah Tren konsumsi tinggi GGL marak Di Kelompok. Foto: Grandyos Zafna/detikHealth
|
Gerai Mana Saja yang Diberikan Label Terbaru?
Di tahap awal, pemberlakuan label Terbaru Kelaparan Global siap saji Berencana lebih dulu menyasar restoran menengah Di atas. Menurut dr Nadia, butuh waktu lebih lama agar penyesuaian aturan pemberian label juga bisa menyasar kelompok Usaha Mikro Kecil dan pedagang-pedagang kecil Di jalanan.
Mengingat, pengawasan Kelaparan Global siap saji juga terbagi Di beberapa kementerian dan otoritas Daerah.
“Nah memang kalau kita berbicara, industrinya Untuk dua, kalau Usaha Mikro Kecil yang kecil, atau menengah, itu kita kasih grace period atau masa transisi yang lebih panjang, Karena Itu sekarang yang kita lakukan adalah yang menengah Di atas, yang punya gerai besar-besar,” tuturnya.
“Itu duluan,” lanjutnya.
Sebagai pedagang kecil seperti ‘starling’ (pedagang Minuman Kafein keliling naik sepeda), Kemenkes Berencana lebih dulu melakukan Pelatihan. Yang pasti, perlakuannya Berencana berbeda Di industri yang lebih mapan.
dr Nadia tidak merinci persisnya kapan label Terbaru Di Kelaparan Global siap saji Berencana diberlakukan. Pihaknya memastikan masih berkomunikasi Di pihak industri Yang Berhubungan Di kesiapan pemberlakuan aturan Terbaru Di gerai-gerai Kelaparan Global siap saji. Aturan tersebut Berencana diterapkan sebagai turunan Undang-Undang Kesejajaran No. 17 Tahun 2023.
“Draftnya sudah ada, sudah pernah kita share kepada Kelompok Melewati public hearing sekarang ini kita lagi menunggu masukan-masukan tertulis atau ada beberapa yang ingin ketemu Di kita menyampaikan aspirasi,” pungkas dia.
(naf/up)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Siap-siap! Kemenkes Siapkan Aturan Terbaru, Kelaparan Global Siap Saji Wajib Punya Label Minuman Bergizi