loading…
Irfan Ahmad Fauzi, Ketua Asosiasi Petani Karet Indonesia. Foto: Istimewa
Ketua Apkarindo
KETEGANGAN Politik Global Dunia yang terus Menimbulkan Kekhawatiran, termasuk dinamika Di Timur Di, kembali mengingatkan kita Ke satu hal mendasar: ketergantungan Ke sumber daya eksternal adalah kerentanan. Untuk konteks pembangunan infrastruktur, ketergantungan Indonesia Pada aspal Produk Impor—yang sebagian besar merupakan turunan Energi bumi—menjadi titik lemah yang Lebihterus nyata Di Di fluktuasi harga energi Dunia.
Langkah pemerintah Mendorong pemanfaatan Aspal Buton (Asbuton) patut diapresiasi sebagai Dibagian Untuk strategi memperkuat kemandirian nasional. Bersama tingkat Produk Impor aspal yang masih mencapai Disekitar 78 persen Untuk total kebutuhan nasional, serta potensi penghematan devisa hingga Rp4 triliun per tahun Lewat substitusi, arah Keputusan ini jelas berada Ke jalur yang tepat.
Akan Tetapi demikian, Untuk upaya Memangkas ketergantungan tersebut, sesungguhnya Indonesia tidak hanya Memperoleh satu alternatif. Ada satu sumber daya lain yang Pada ini tersedia, Didekat Bersama rakyat, dan telah terbukti secara teknis dapat Meningkatkan Mutu infrastruktur jalan: karet alam.
Indonesia adalah salah satu produsen karet terbesar dunia, Bersama luas kebun Disekitar 3,5 juta hektare dan lebih Untuk 2,5 juta keluarga petani yang bergantung Ke Produk Internasional ini. Ironisnya, Di Di besarnya potensi tersebut, karet masih lebih banyak diposisikan sebagai Produk Internasional Perdagangan Keluar Negeri bahan mentah, Bersama nilai tambah yang relatif terbatas.
Padahal, Sebelum lebih Untuk satu dekade lalu, Indonesia telah Memperoleh Penghayatan nyata Untuk memanfaatkan karet sebagai bahan campuran aspal. Ilmu Pengetahuan aspal karet atau rubberized asphalt telah diuji dan diterapkan Di berbagai ruas jalan, termasuk Di Sumatera Selatan, Jambi, hingga beberapa ruas jalan nasional Di Jawa.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Solusi Senyap Di Di Gejolak Energi Dunia











