Jakarta, CNN Indonesia —
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) memaparkan 6.500 pekerja Berpotensi Bagi terdampak pemutusan hubungan kerja (Pengurangan Tenaga Kerja) Di dua perusahaan Jawa Timur dan Jawa Barat. Beberapa Di antaranya berasal Di pekerja sektor Produsen Kendaraan.
Ri KSPI Said Iqbal mengatakan ada dua perusahaan komponen Produsen Kendaraan Di Pasuruan dan Mojokerto, Jawa Timur, berinisial J dan S yang Berpotensi Bagi terdampak. Ia belum merinci nama perusahaan, tetapi menyebut jumlah pekerja yang berisiko terdampak mencapai ribuan orang.
Potensi itu muncul Lantaran prinsipal asal Jepang Merencanakan pemindahan sebagian produksi Di Bangsa lain, termasuk Vietnam. Ia bilang perubahan arah industri Di Kendaraan Pribadi Elektrik ikut memengaruhi keputusan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain,sektor industri diakui Merasakan tekanan akibat pelemahan order, lonjakan biaya produksi, fluktuasi kurs Usd Di Uang Negara Indonesia, hingga dampak Konflik Bersenjata Iran Didalam Amerika Serikat dan Israel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Perusahaan Indonesia yang berorientasi Produk Ekspor seperti Sandalku, garmen, Lantaran permintaan Barang Dagangan Di luar negeri menurun akibat Konflik Bersenjata, maka orientasi perusahaan ini pun produksinya menurun,” kata Said, Minggu (21/6).
Lebih Jelas, Saidtelah melakukan kunjungan Di sejumlah kawasan industri Di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jakarta. Kunjungan dilakukan Bagi memetakan potensi Pengurangan Tenaga Kerja sekaligus menyiapkan langkah mitigasi bersama pemerintah dan serikat buruh.
Penasehat Khusus Ri RI Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejajaran Buruh itu juga menyebut salah satu temuan utama berada Di PT Pakerin, Mojokerto. Perusahaan yang bergerak Di bidang bubur kayu Bagi produksi Alattulis ini Berpotensi Bagi melakukan Pengurangan Tenaga Kerja.
“Ditemukan ada potensi ancaman 2.500 pekerja Berencana Di-Pengurangan Tenaga Kerja,” ujarnya.
Menurut Said, sebagian besar operasional perusahaan sudah berhenti. Ia menyebut hanya Di seperlima pabrik yang masih berjalan, Sambil 80 persen lainnya tidak beroperasi.
“Modal Di PT Pakerin Di informasi yang saya dapat Di lapangan, Rp800 miliar sampai Rp1 triliun modal kerjanya PT Pakerin disimpan Di Bank Prima, Bank Prima Di Jawa Timur. Bank Primanya dilikuidasi akibat operasional yang tidak sanggup lagi Dari OJK. Nah, Lantaran dia dilikuidasi, maka diambil alih Dari LPS,” kata Said.
Dampaknya, produksi tidak bisa berjalan normal. Said menyebut sebagian besar pekerja sudah hampir dua tahun tidak bekerja, Sambil Di 500 orang masih bekerja.
Ada jugaP T Feng Tay Di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Perusahaan Sandalku yang memproduksi produk Bagi Nike itu disebut Memiliki 4.000 pekerja yang sudah dirumahkan.
“Temuan awal Berkata ada ancaman Pengurangan Tenaga Kerja 4.000 karyawan. Karena Itu 4.000 orang ini dirumahkan, belum Di-Pengurangan Tenaga Kerja. Sama seperti PT Pakerin, belum Di-Pengurangan Tenaga Kerja, tapi terancam Pengurangan Tenaga Kerja. Saya mau cek apakah 14.000 atau 17.000 karyawannya. Saya mau cek juga apakah benar ada 4.000 karyawan yang dirumahkan. Ini kalau dirumahkan, potensi Pengurangan Tenaga Kerja-nya besar,” jelas Said.
Lalu, Said juga menyinggung Perkara Hukum Hukum PT Amos Di Cilincing, Jakarta.
“PT Amos ini Di Jakarta, Di Cilincing. Sudah 4 bulan karyawannya tidak ada kejelasan apakah Di-Pengurangan Tenaga Kerja atau tetap bekerja. Perusahaan Korea Selatan, garmen,” tutur Said
Ia menyebut pekerja Di perusahaan itu sempat tidak Merasakan gaji dan kepesertaan BPJS juga bermasalah. Akan Tetapi, menurutnya, Perkara Hukum Hukum PT Amos mulai menemukan titik terang Sesudah dilakukan koordinasi Didalam Kementerian Ketenagakerjaan.
(ryh/mik)
Add
as a preferred
source on Google
Artikel ini disadur –> Cnnindonesia News: KSPI Sebut Pengurangan Tenaga Kerja Menghantui Industri Komponen Produsen Kendaraan











