loading…
Pembaharuan Ilmu Pengetahuan perbankan ini dinilai efektif membantu konsumen mendisiplinkan pengeluaran harian. FOTO/dok.SindoNews
“Sebenarnya bank digital ini lebih Ke enabler (penggerak) Untuk yang amplop-amplop itu menjadi digital,” ujar Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan Dan Menengah Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Fadhila Maulida Untuk sebuah diskusi publik, dikutip Jumat (22/5/2026).
Baca Juga: Transisi Energi Sektor Batu Bara Terkendala Biaya dan Regulasi
Berdasarkan Survei Katadata Middle Class Insight (KIMCI), sebanyak 51,8% kelompok kelas menengah kini terbiasa memisahkan uang tagihan bulanan Untuk keperluan sehari-hari. Langkah ini melengkapi kebiasaan merencanakan Dana (68%) dan mencatat pengeluaran (44,9%), sebagai strategi bertahan Ke Di penurunan jumlah kelas menengah Untuk 57,3 juta jiwa Ke 2019 menjadi 47,2 juta jiwa Ke 2024.
Hasil Eksperimen terpisah KIC Pada hampir 2.000 responden Ke 10 kota besar Menunjukkan bahwa 86 persen Kelompok telah familier Di fitur kantong yang diadopsi Di sejumlah bank seperti Bank Jago, BCA, dan Mandiri. Menariknya, metode membagi uang berdasarkan pos kebutuhan ini Memiliki akar psikologis yang kuat, Ke mana 47,5 persen responden mengaku Menerapkan kebiasaan ini Untuk didikan orang tua mereka yang dahulu sering menggunakan amplop fisik.
Direktur Inisiatif dan Aturan Center of Policy Studies, Piter Abdullah mengemukakan bahwa Transformasi Digital ini membawa perubahan besar Ke lanskap pengelolaan keuangan Kelompok. Di integrasi ekosistem keuangan Di ini, nasabah dapat Di mudah Memiliki banyak kantong pengeluaran Untuk satu rekening tunggal tanpa harus mendatangi kantor cabang bank.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Tekan Risiko Turun Kelas, 51,8% Kelas Menengah Pisahkan Pos Pengeluaran











