Jakarta –
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah Situasi ketika tekanan darah Di dinding arteri terlalu tinggi. Hal ini membuat jantung bekerja lebih keras Sebagai memompa darah Ke seluruh tubuh.
Seiring waktu, hipertensi bisa merusak arteri dan jantung serta menyebabkan komplikasi serius, seperti serangan jantung atau stroke. Sayangnya, tekanan darah tinggi biasanya tidak menimbulkan Tanda Agar sering disebut sebagai silent killer.
Hipertensi Banyak Menyerang Anak Muda
Hipertensi merupakan salah satu penyebab kematian terbesar Ke dunia. Penyakit ini Malahan tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi juga orang berusia muda.
Berdasarkan Survei Kesejajaran Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi Ke kelompok usia 18-24 tahun berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah mencapai 10,7 persen. Sambil Itu, Ke kelompok usia 25-34 tahun angkanya mencapai 17,4 persen.
Penentuan status hipertensi didasarkan Ke pengakuan responden yang pernah didiagnosis hipertensi Dari Praktisi Medis dan hasil pengukuran rata-rata tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg.
Sebagai catatan, menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, generasi muda adalah individu berusia 16-30 tahun. Sambil Itu, Kementerian Kesejajaran RI mengelompokkan anak muda mulai Untuk usia remaja hingga dewasa muda Bersama rentang usia 15-24 tahun.
Penyebab Hipertensi-Masalah Jantung Ke Anak Muda
Spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Berlian Idriansyah Idris, SpJP, mengatakan Ke Umumnya hipertensi dan masalah kardiovaskular memang Lebih banyak mengintai anak muda. Menurutnya, Situasi ini berkaitan Bersama perubahan Life Style dan tingkat Tekanan yang tinggi Ke kalangan usia muda.
“Masalah jantung kini banyak dialami anak muda Lantaran Life Style yang tidak sehat seperti merokok, kurang gerak, serta pola makan tinggi garam, lemak, dan gula,” kata dr Berlian ketika dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.
“Sangat Mungkin Saja anak muda sering begadang dan kurang tidur, yang diketahui berhubungan Bersama masalah jantung,” tambahnya.
Lantas, bagaimana hipertensi memengaruhi jantung?
Spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Vito Damay, SpJP, menjelaskan bahwa tekanan darah tinggi memang dapat memicu berbagai masalah jantung. Salah satu mekanismenya adalah menyebabkan pembesaran jantung atau kardiomegali.
“Jantung membesar dapat memicu gumpalan darah atau gangguan irama jantung yang fatal,” kata dr Vito.
Tekanan darah tinggi juga dapat merusak pembuluh darah koroner. Situasi ini menyebabkan terbentuknya plak Ke pembuluh darah dan Mengurangi pasokan oksigen Ke jantung atau menyebabkan iskemia.
“Iskemia Ke otot jantung ini juga dapat menyebabkan gangguan sistem kelistrikan jantung yang fatal dan mendadak,” jelas dr Vito.
“Plak Ke pembuluh darah koroner ini bisa pecah Agar pembuluh darah yang seharusnya Menyediakan oksigen dan Konsumsi Bergizi Ke jantung menjadi tersumbat. Situasi tersebut dapat menyebabkan serangan jantung, kerusakan permanen Ke otot jantung, atau henti jantung mendadak,” tandasnya.
Dikutip Untuk Mayo Clinic, beberapa faktor risiko hipertensi Antara lain:
- Terlalu banyak mengonsumsi garam: Kelebihan natrium atau garam Untuk tubuh dapat menyebabkan retensi cairan yang Memperbaiki tekanan darah. Pola Makan tinggi garam, lemak, dan gula sering dilakukan Dari gen Z, seperti yang dikatakan dr Berlian. Padahal hipertensi bisa berdampak Ke jantung.
- Tekanan: Tingkat Tekanan yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah Sambil. Kebiasaan yang sering menyertai Tekanan, seperti makan berlebihan, merokok, atau minum alkohol, juga dapat Memperbaiki tekanan darah Lebih Jelas. Menurut survei Cigna International Health tahun 2023, gen Z muncul sebagai demografis yang paling Tekanan Ke tempat kerja dan berjuang keras Sebagai mengatasinya.
- Obesitas: Kelebihan berat badan menyebabkan perubahan Ke pembuluh darah, ginjal, dan Dibagian tubuh lainnya serta sering kali Memperbaiki tekanan darah. Untuk dua dekade terakhir, jumlah anak yang masuk kategori overweight hingga obesitas Menimbulkan Kekhawatiran, remaja Bersama rentang umur 13-18 tahun Merasakan dua Situasi tersebut.
- Kurang Aktivitasfisik: Kurangnya Olah Raga dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Orang yang tidak aktif juga cenderung Memperoleh tekanan darah lebih tinggi. Seperti yang disebutkan dr Berlian, salah satu pola tidak sehat yang dilakukan anak muda adalah kurang gerak.
- Riwayat keluarga: Seseorang lebih Mungkin Saja Merasakan hipertensi jika Memperoleh orang tua atau saudara kandung yang Merasakan Situasi tersebut.
- Kadar kalium rendah: Kalium membantu menyeimbangkan jumlah garam Untuk sel-sel tubuh. Kesejajaran kalium yang tepat penting Sebagai menjaga Kesejajaran jantung.
Pentingnya Pemeriksaan Tekanan Darah
dr Berlian mengingatkan bahwa pemeriksaan tekanan darah perlu dilakukan secara rutin. Tujuannya adalah menjaga tekanan darah tetap stabil dan mencegah hipertensi memicu Penyakit lainnya.
“Bila sudah didiagnosis hipertensi, pemeriksaan diperlukan Sebagai melihat dampaknya Ke organ, terutama jantung dan ginjal,” ujarnya.
Tekanan darah normal berada Ke bawah 120/80 mmHg. Sambil Itu, seseorang dikategorikan Merasakan hipertensi jika tekanan darahnya mencapai atau melebihi 140/90 mmHg.
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Ancaman Hipertensi Ke Gen Z, Mengapa Usia Muda Kini Rentan Penyakit Jantung?











